www.AlvinAdam.com

Berita 24 Bangka Belitung

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Milenial adalah raja piknik di Indonesia

Posted by On 14.33

Milenial adalah raja piknik di Indonesia

Wisatawan tampak menikmati pemandangan di Pantai Tanjung Tinggi, Belitung, Bangka Belitung, Sabtu (10/2/2018). Pantai yang dijadikan tempat pembuatan film Laskar Pelangi itu masih menjadi wisata favorit wisatawan lokal dan mancanegara.
Wisatawan tampak menikmati pemandangan di Pantai Tanjung Tinggi, Belitung, Bangka Belitung, Sabtu (10/2/2018). Pantai yang dijadikan tempat pembuatan film Laskar Pelangi itu masih menjadi wisata favorit wisatawan lokal dan mancanegara. | Rivan Awal Lingga /Antara Foto

Berlibur kerap diartikan sebagai perjalanan mengisi waktu luang untuk relaksasi di tengah kesibukan selama beberapa waktu. Ada yang gemar menghabiskan masa liburan dengan berwisata, baik bersama keluarga, teman atau hanya sendirian--populer disebut solo traveler.

Dahulu, bangsa Romawi sebagai yang pertama memopulerkan tren wisata bisa menghabiskan waktu hingga dua tahun lamanya untuk melancong mencari kesenangan. Tentu saja, hal itu hanya dilakukan oleh keluarga Roma yang kaya raya.

Namun, kini tren telah bergeser. menurut CN Travel berwisata tak lagi hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah mapan atau berkeluarga. Hasil riset membuktikan, dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, anak-anak mudalah yang memiliki peran besar untuk membentuk cara baru dalam berwisata.

Data yang kami olah pun menunjukkan angka yang serupa. Di Indonesia, dari sekitar 261 juta jiwa penduduknya pada tahun 2016, setidaknya ada 35 persen atau 25 juta anak muda yang gemar wisata.

Anak-anak muda ini masuk ke dalam kategori usia di bawah 20 tahun. Sedangkan kelompok usia produktif bekerja yakni 20-40 tahun berada satu peringkat di bawahnya.

Bi sa jadi wisatawan domestik yang tergolong Gen Z ini diboyong oleh keluarganya untuk berlibur. Namun, tak menutup kemungkinan juga mereka berwisata sendiri atau dengan rekan sebayanya, tanpa mengekor orang tua.

Hal ini diperkuat hasil wawancara Forbes (8/11/2017) dengan Dean Sivley, pimpinan Berkshire Hathaway Travel Protection (BHTP), sebuah perusahaan asuransi perjalanan di Amerika Serikat. Menurut Sivley, saat ini jumlah permintaan asuransi perjalanan berbanding lurus dengan jumlah para wisatawan muda.

Tadinya, wisatawan yang menginginkan asuransi perjalanan merupakan mereka yang berusia 35-44. Lalu pada 2016, angka pemohon berusia 25-44 meningkat sekitar 30 persen, dan melonjak tajam menjadi 70 persen pada 2017.

Hal ini disebut-sebut sebagai cikal bakal masa kejayaan para milenial, di mana anak-anak muda disebut mulai memegang peran penting dalam industri pariwisata dunia.

Tren tersebut juga seiring dengan berkembangnya kecanggihan internet dan gawai. Ke hadiran dua sarana komunikasi dan informasi tersebut mempermudah kaum milenial mengetahui keberadaan daerah-daerah wisata yang bahkan tadinya tak terjamah.

Selain itu, untuk mewujudkan keinginan berwisata di daerah tertentu, generasi milenial juga tak segan berbagi biaya perjalanan dan akomodasi dengan mereka yang memiliki tujuan sama. Bahkan hal itu kerap dilakukan walau mereka sebelumnya tak saling kenal.

Tindakan yang sebenarnya berisiko itu bisa mengurangi pengeluaran sehingga melancong jadi lebih terjangkau.

Hasil riset situs penyewaan penginapan Booking.com yang diterima Beritagar.id menyatakan, bahwa saat ini 6 dari 10 wisatawan domestik lebih memilih untuk bermalam di rumah sewa ketimbang hotel mewah. Selain lebih murah, menginap di rumah sewa disebut lebih bisa memberi inspirasi dan pengalaman berbeda ketimbang hotel.

Rumah yang disewakan kepada wisawatan biasanya memang dibanderol dengan harga lebih murah ketimbang hotel pada umumnya. Bahkan, ada beberapa situs komunitas yang memungkinkan Anda sebagai wisawatan untuk dapat menginap secara cuma-cuma di rumah penduduk lokal.

Berbekal segala kemudahan tersebut, melancong menjadi kegiatan yang lumrah dan murah untuk dilakukan, terutama saat libur sekolah yang biasanya jatuh pada pertengahan tahun, antara Juni-Juli.

Mengapa generasi milenial Indonesia tersebut suka piknik? Hasil riset Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan adanya peralihan konsumsi di masyarakat. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kalangan usia produktif kini lebih senang membelanjakan uangnya untuk mencari pengalaman ketimbang memiliki barang.

Tak hanya di Indonesia, fenomena ini juga terjadi di berbagai negara lain. Donna Jeavons, direktur penjualan dan pemasaran Contiki, perusahaan yang fokus pada layanan perjalanan untuk milenial, mengatakan kep ada Independent bahwa terjadi peningkatan tren anak muda yang menghabiskan uang lebih banyak untuk jalan-jalan.

Contiki, menurut Jeavons, melihat terjadi peningkatan 10 persen dari rata-rata pengeluaran klien mereka yang berusia 18-35 tahun. Salah satu hal yang disebut menjadi pendorong keinginan piknik itu adalah terlalu mahalnya harga rumah saat ini.

Kembali ke Indonesia, warga Nusantara bagian manakah yang sering jalan-jalan? Jika melihat rasio para penggemar piknik dengan jumlah penduduk, DI Yogyakarta menempati peringkat pertama.

Berdasarkan data Susenas BPS Maret 2017, 48,1 persen penduduk Yogyakarta suka melancong, disusul penduduk DKI Jakarta yang mencapai 43 persen.

Namun, tentu saja, jika membicarakan jumlah, DKI menjadi nomor satu karena provinsi ini memiliki populasi mencapai 10,18 juta jiwa (sensus 2014), nyaris tiga kali lipat dibandingkan penduduk Yogya (3,59 juta jiwa).

Sekarang, mengenai tujuan wisata favorit para turis domestik tersebut. Menurut Indeks Pariwisata Indonesia, hingga akhir 2017 Bali masih meraja sebagai daerah tujuan wisata paling diminati di Indonesia.

Selain itu, menurut data Skyscanner 2017 yang dilansir CNN Indonesia, Belitung di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Solo di Jawa Tengah merupakan destinasi domestik yang popularitasnya meningkat paling cepat.

Belitung mengalami peningkatan pencarian informasi wisata sebesar 90 persen, sementara Solo mengalami peningkatan sebesar 79 persen. Data ini menunjukkan adanya ketertarikan terhadap pengalaman wisata yang lebih anti-mainstream dan gaya hidup lokal yang otentik.

Sumber: Google News | Berita 24 Babel

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »