www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Kebutuhan serum antidifteri kian mendesak

Posted by On 18.42

Kebutuhan serum antidifteri kian mendesak

UNTUK INFORMASI LEBIH LENGKAP, IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Petugas medis Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) merawat pasien penderita difteri, di Banda Aceh, Aceh, Selasa (19/12/2017)
Petugas medis Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) merawat pasien penderita difteri, di Banda Aceh, Aceh, Selasa (19/12/2017)
© Irwansyah Putra /Antara Foto

Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri yang tengah melanda Indonesia, tak hanya butuh vaksin yang mengandung komponen difteri sebagai pencegahan. Pengobatan pasien difteri membutuhkan Antidifteri Serum (ADS), yang sebagian besar masih harus diimpor .

Untuk memenuhi kebutuhan vaksin dalam program Outbreak Response Immunization (ORI), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen vaksin, Bio Farma, memastikan semua kebutuhan akan terpenuhi hingga 2018.

Untuk program ORI KLB difteri yang akan dilaksanakan tiga kali--Desember 2017, Januari 2018 dan Juli 2018--vaksin yang dibutuhkan terdiri dari vaksin DT, Td, dan DTP-HB-Hib. Ketiga jenis vaksin ini sudah bisa diproduksi oleh Bio Farma.

Pemerintah membutuhkan setidaknya 130 ribu vial vaksin DT 10ds, 760 vial vaksin Td, dan 1,4 juta vial vaksin DTP-Hb-Hib untuk program ORI pada Desember 2017. Dari jumlah tersebut masih ada tambahan dari Bio Farma masing-masing 35 ribu vial vaksin DT 10ds, dan 102 ribu vial vaksi Td 10ds.

"Sedangkan untuk vaksin DTP-HB-Hib, stok pemerintah masih mencukupi," ujar Corporate Secretary Bio Farma, Bambang Heriyanto, dalam siaran pers di situs Bio Farma, Kamis (14/12) pekan lalu.

Untuk tahap kedua dan ketiga pada 2018, Bio Farma akan menambahkan pasokan vaksin yang mengandung komponen difteri masing-masing sebanyak 1,2 juta vial vaksin DT 10ds, 7 juta vial vaksin Td 10ds, dan 4 juta vial vaksin DTP-Hb-Hib. Stok ini di luar kebutuhan rutin pemerintah untuk program imunisasi.

Stok ADS mulai langka

Kasus difteri kian meluas dan menyebar di 28 provinsi serta 142 kabupaten/kota di Indonesia. Data dari Ikatan Dokter Indonesia, khususnya dokter anak, ada 40 anak terinfeksi difteri meninggal dan dan lebih dari 600 pasien dirawat di rumah sakit karena terjangkit difteri sejak November-Desember.

Beberapa wilayah dikabarkan mulai kekurangan stok ADS atau Antidifteri Serum. Serum ini bisa jadi pengobatan awal bagi suspect difteri. Kompas.com (18/12) melaporkan, Dinas Kesehatan Kepulauan Bangka Belitung, meminta tambahan pasokan Antidifteri Serum pada Kemenkes karena stok tersisa tinggal sedikit.

Laporan itu menyebutkan empat kasus difteri ditemukan di Kepulauan Bangka Belitung, dan d ua di antaranya pasien anak yang meninggal dunia sebelum sempat menjalani perawatan lanjutan. Kedua anak berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, merupakan warga Bangka Selatan.

Pekan lalu, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Karawang, Jawa Barat, juga diwartakan kekurangan pasokan ADS. Seperti dilansir Antaranews (11/12), Direktur RSUD Karawang, Asep Hidayat Lukman, mengaku telah mengajukan permintaan ke pihak provinsi karena ada lima pasien penderita difteri yang butuh 20 ADS.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Aceh juga dilaporkan kehabisan persediaan ADS. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Abdul Fatah, dalam Netralnews (18/12), menyatakan persediaan ADS kosong.

"Kebutuhan serum antidifteri sangat mendesak sebab ada empat pasien difteri membutuhkan serum tersebut yang saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh," kata dia.

Hingga Selasa (19/12), KLB dif teri di Aceh dinyatakan terbesar kedua di Indonesia. Setidaknya 11 pasien penderita suspect difteri sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh.

Adapun pasokan ADS di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta, dinyatakan aman. "Selama ini kebutuhan serum dipasok oleh Kemenkes. Kemenkes telah menjamin ketersediaan serum tersebut," kata Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso, Rita Rogayah, dikutip Tempo.co (18/12).

Pemerintah siapkan stok ADS

Untuk memenuhi kebutuhan mendesak terhadap ADS, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Untung Suseno Sutarjo, mengatakan akan mengimpor obat ADS guna memenuhi kebutuhan pada kasus KLB Difteri. Kementerian Kesehatan akan menyiapkan 4.000 obat Antidifteri Serum (ADS).

"Biofarma menyumbang 700 vial ADS. Kita juga minta Badan POM untuk mempermudah impor ADS. Jadi bulan ini mungkin sudah bisa dapat 4.000-an vial," kata Untung, Selasa, yang dilansir Antaranews, Ra bu (20/12).

Bio Farma memberikan bantuan untuk Kementerian Kesehatan sebanyak 700 vial ADS yang diimpor dari India senilai Rp1,2 miliar. ADS terpaksa diimpor karena Bio Farma sedang melakukan peningkatan dan pengembangan kapasitas produksi ADS, sehingga produksinya saat ini belum optimal.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan juga telah berkomunikasi dengan WHO di India dan Geneva untuk membantu dalam hal mencari ADS. WHO sudah merespons akan menyiapkan obat yang diperlukan Indonesia. Kemenkes pun telah mengimbau rumah sakit agar tidak khawatir dengan kelangkaan ADS sebagai obat antidifteri.

Berbeda dengan vaksin yang berfungsi sebagai pencegahan, Antidifteri Serum ini berfungsi untuk mengobati penderita yang sudah terlanjur terkena difteri. Serum atau sera, adalah cairan yang mengandung sistem kekebalan terhadap suatu bakteri. Serum ini membantu seseorang memiliki kekebalan terhadap kuman atau imunitas pasif.

Namun ADS hanya efektif bila penanganan kasusn ya belum terlambat. Kalau bakteri penyebab difteri, Corynebacterium diphtheriae, masih beredar di tubuh maka ADS bisa membantu melawan racun yang dikeluarkan bakteri tersebut. Racun itu membentuk selaput untuk menghancurkan jaringan di sekitarnya, supaya si bakteri leluasa menyebar.

ADS buatan Bio Farma, serum Antidifteri (kuda) 20.000 IU, merupakan antisera murni yang dibuat dari plasma kuda yang dikebalkan terhadap difteri serta mengandung fenol sebagai pengawet, berupa cairan bening kekuningan.

Sumber: Google News | Berita 24 Babel

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »